Saumlaki, Dharapos.com
Peralihan musim
antar musim hujan dan musim panas sesuai proteksi ilmu kedokteran, selalu
memberi ruang yang lebar bagi mewabahnya penyakit-penyakit menular di
masyarakat.
 |
| dr. Juliana Ch. Ratuanak |
Salah satunya adalah penyakit Demam Berdarah (DBD) yang berpotensi
terjadi di kala masa peralihan musim itu tiba.
Kepada wartawan,
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara Barat, dr. Juliana Ch. Ratuanak
mengatakan sesuai data yang dimiliki, tahun 2014 lalu banyak mencuat kejadian
luar biasa yaitu diare. Setelah diintervensi dengan adanya pemberian bantuan pembangunan jamban keluarga
bagi sejumlah desa yang berpotensi, ternyata berhasil menekan angka penderita
diare.
Meskipun tahun
ini kasus diare variasinya menipis namun menurut dia, yang diantisipasi penyakit
Demam Berdarah (DBD).
Hal ini terbukti dari adanya penurunan angka penderita
penyakit Malaria, dimana potensi DBD sangat tinggi berpeluang terjadi.
Beberapa waktu
lalu, telah dilakukan penelitian oleh Prof. Supratman bersama timnya, ternyata
nyamuk DBD sangat banyak ditemukan di lingkungan masyarakat.
Wilayah yang masuk
kategori lampu merah DBD di saat ini adalah wilayah kecamatan Tanimbar Selatan,
sehingga pihaknya sementara bekerja keras mensosialisasikan upaya pencegahan
DBD bagi masyarakat di beberapa tempat sebelum DBD benar-benar terjadi.
“Hati-hati karena daerah
ini cukup terbuka untuk orang masuk keluar. Hati-hati ada yang datang bawa
bibit itu dan ketika nyamuk menggigitnya dan pindahkan ke orang lain maka kena.
Ini sudah pernah terjadi di tahun 2012, dan di tahun 2013 kemarin dan akhirnya
kami melakukan penyemprotan,” ungkapnya.
Untuk itu, Pemda MTB melalui Dinkes telah memprogramkan
pengadaan kelambu anti nyamuk atau kelambu berinsektisida untuk masyarakat di
setiap wilayah kecamatan dan desa di MTB.
Meskipun tidak memperinci berapa banyaknya
kelambu anti nyamuk tersebut serta ukurannya namun dr. Yuliana Ratuanak
memastikan akan disebarkan bagi masyarakat di awal tahun ini.
Selain pembagian
kelambu anti nyamuk kepada masyarakat, sejumlah wilayah yang masuk kategori lampu
merah tersebut akan dilakukan pengasapan atau foging untuk membunuh nyamuk DBD.
“Kami akan melakukan itu
juga sambil melihat kalau angin terlalu banyak maka percuma kalau kita
menyemprot karena akan terbawa angin dan sasaran kita tidak tercapai. Kita
tunggu diakhir musim hujan, banyak air yang tergenang dan disitu terjadi
tempat-tempat bersarangnya nyamuk. Disaat kondisi angin sudah mulai berkurang
maka disaat itu pula kita lakukan penyemprotan,” jelasnya.
Ratuanak
berharap agar perang melawan DBD bukan hanya menjadi beban dan tanggung jawab
pemerintah melainkan adanya perhatian dan partisipasi seluruh masyarakat.
Partisipasi masyarakat yang dimaksudkan adalah melakukan gerakan 3 M serta
semakin meningkatkan upaya pembersihan lingkungan tempat tinggal agar tidak
kotor dan dengan mudah menjadi sarang nyamuk.
Kepada instansi
pemerintah, sekolah-sekolah, instansi swasta dan semua pihak untuk perlu
memprogramkan hari-hari khusus untuk pembersihan lingkungan sebagai gerakan
bersama yang edukatif untuk bisa mendorong pribadi-pribadi tertentu yang oleh
karena malas sehingga lingkungannya semakin kotor dan menjadi tempat
bersarangnya nyamuk DBD.
Mantan aktivis
PMKRI ini juga berharap agar media masa juga turut terlibat dalam perang
melawan DBD dengan cara menyosialisasikan dampak dan bahaya dari gigitan nyamuk
DBD kepada masyarakat, teristimewa masyarakat yang berada di pelosok desa dan
dusun di MTB.
Dia meyakini, bahwa hanya dengan sosialisasi termasuk dengan adanya peran serta
media masa maka masyarakat bisa sadar akan pentingnya menjaga lingkungan yang
bersih dan sehat.
Berdasarkan data
yang dihimpun di beberapa kecamatan pekan kemarin, ternyata ribuan kelambu anti nyamuk
sudah di salurkan kepada masyarakat.
Salah satu warga
desa Lemdesar di kecamatan Tanimbar Utara kepada Dhara Pos mengaku senang
dengan adanya pembagian kelambu anti nyamuk tersebut oleh Pemda MTB.
Sumber yang
tidak mau dikorankan namanya ini mengaku sangat puas dengan kualitas kelambu
saat di gunakan.
Hal senada juga
disampaikan oleh salah satu warga desa Arui Das – kecamatan Wertamrian.
“Kelambu yang katong dapat
dari Pemda MTB ini paling bagus bu, nyamuk seng bisa dekat lae jadi katong
kalau tidur seng perlu khawatir lae deng nyamuk,” ujar
sumber yang juga tidak ingin dikorankan namanya itu.
(mon)
Label: Daerah