Notanubun Soroti Pernyataan Fakaubun Soal Keluarga Bupati Malra

Kabid Organisasi DPC GAMKI Malra Triko Notanubun
Langgur, Dharapos.com
– Kabid Organisasi DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Maluku Tenggara (Malra) Triko Notanubun angkat bicara menanggapi berbagai isu yang diarahkan kepada keluarga Bupati setempat M. Thaher Hanubun belakangan ini.

Mulai dari tuduhan mengatur proyek hingga tudingan korupsi yang dilakukan istri Bupati, Eva Eliya Hanubun.

Dalam pernyataannya kepada media ini, Senin (8/2/2021), mengingatkan semua pihak untuk tidak mengeluarkan statemen secara serampangan atau membabi buta tanpa mendasarinya dengan norma dan etika sebagai masyarakat yang beradat.

"Seperti yang kita ketahui bersama bahwa proses mengurus proyek atau tender maupun sejenisnya pasti ada aturan yang mengatur mekanisme secara tersistematis dan tidak diatur sesuai kehendak penguasa maupun kroni-kroninya,” tekannya menanggapi tuduhan-tuduhan kepada Bupati Malra dan keluarga yang diberitakan beberapa waktu lalu.

Dengan begitu, maka semua orang maupun perusahaan bahkan Pemerintah daerah bagian terkait harus tunduk pada mekanisme atau aturan yang ada.

Triko secara khusus menyoroti pernyataan Hamid Fakaubun yang dimuat pada salah satu media lokal di Malra.

Ia menilai, tuduhan yang disampaikan Fakaubun sangat tidak berdasar dan hanya ingin memainkan isu politik murahan yang bermuara pada pencitraan negatif terhadap pribadi.

"Oleh karena itu, saudara (Fakaubun, red) perlu sedikit belajar soal pencitraan politik secara matang sehingga bisa berbicara dengan baik dan berdasar,” sorotnya.

Triko juga mengingatkan Fakaubun untuk menjaga nilai tata krama dan juga sopan santun sebagai anak adat sehingga tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan seperti itu tidak dilontarkan.

"Tuduhan yang tidak berasalan jangan kita tunjukan kepada saudara kita apalagi orang tua kita,” tegasnya.

Triko menekankan pula cara hidup di negeri adat yang menjunjung tinggi tatanan nilai dalam menghargai saudara perempuan maupun orang tua.

“Adalah lebih baik dan bijak jika kita memahami suatu persoalan yang ada dasar dan buktinya dengan wajib mencari sumber serta pihak yang punya kompetensi untuk mengklarifikasi atau mendapat kepastian tuduhan kita dulu sebelum kita mempublisnya sebagai berita, sehingga kemudian tidak berdampak pada persoalan hukum maupun tatanan adat kita,” tekannya.

Aktivis muda ini juga meminta klarifikasi wartawan yang menulis berita agar mengedepankan etika jurnalistik dan tidak seenaknya menulis berita yang berbau fitnah serta tersirat desain dari sebuah pesanan politik.

“Wartawan harus paham dong kalau ada hak jawab dan keseimbangan pemberitaan. Bukan malah membuat berita yang tak berdasar dan sesuka hati si oknum wartawan itu sendiri,” kecamnya.

Triko menambahkan pula, pemberitaan yang tidak mengedepankan etika jurnalistik bisa dikategori hoax dan berita yang tendensi politiknya tinggi dalam pandangan publik.

(dp-52)

Label: