Ratusan Kapal Nelayan di Aru Bakal Pindah ke Tual, Ini Penyebabnya

Sejumlah kapal nelayan asal pulau Jawa yang selama ini beraktivitas di Dobo, Kepulauan Aru

Dobo, Dharapos.com
- Sekitar 500 buah kapal nelayan asal pulau Jawa yang selama ini beroperasi di laut Aru akan berpindah ke Tual.

Penyebabnya, pajak restribusi daerah yang begitu besar telah memaksa mereka harus meninggalkan Aru.

Demikian disampaikan sala satu sumber yang sering disapa ON kepada media ini, di Dobo, Kamis (25/3/2021).

“500an kapal yang selama ini beroperasi di laut Aru akan pindah ke Tual karena tuntutan retribusi yang mereka harus berikan kepada daerah sangat besar yaitu 1900 per kilo. Jadi jika dihitung pertahunnya maka PAD yang disetor sebesar Rp27 Miliar dan itu tidak sebanding dengan daerah lain,” bebernya.

ON kemudian membandingkan retribusi yang diberlakukan bagi kapal nelayan di Tual.

“Di Tual, pajak restribusinya kecil dan tidak sebanding dengan Aru,” akuinya.

Selain itu, para pelaku usaha dipermudah dalam semua pengurusan izin kapal mulai dari SKMI, SIPI dan lain sebagainya.

“Bukan seperti di daerah ini yang mana semua izin urusannya sudah memakan waktu lama ditambah lagi dengan pajak restribusi yang begitu besar maka sudah tentu kapal kapal nelayan asal pulau Jawa ini akan merasa tidak nyaman bahkan terancam bangkrut,” sambungnya.

Atas fakta ini, para petinggi perusahaan di pusat memutuskan para pengurus kapal yang saat ini menjadikan Dobo sebagai lokasi usaha untuk segera keluar dan berpindah ke Tual.

Menyikapi hal ini, salah satu tokoh muda Aru Hendrik Dumgair kepada media ini sangat menyayangkan kondisi ini.

Ia menilai betapa ruginya daerah ketika ratusan kapal nelayan asal Jawa yang selama ini mencari di laut Aru serta memberikan pemasukan yang besar bagi daerah berpindah ke Tual.

Baginya, dipastikan akan berdampak pada perekonomian kerakyatan. Mengingat selama ini ibu-ibu yang berjualan di pasar mengharapkan dagangannya habis terjual kini terancam akibat rencana pindah ke Tual.

"Ya, semoga saja Pemerintah daerah bisa melihat hal ini dan secepatnya memulihkan apa yang menjadi tuntutan dan keinginan pengusaha kapal. Juga harapan masyarakat kecil terkait kondisi daerah dengan perekonomian kerakyatan yang belum juga stabil menyebabkan barang jualan tidak laku laku,” tukas Dumgair.

(dp-31)

Label: