“Falsafah Yang Mempersatukan” Karya M. Muzni Wokanubun

M. Muzni Wokanubun, dosen muda STIS Tual

Langgur, Dharapos.com - 
M. Muzni Wokanubun dikenal sebagai pemerhati masalah sosial yang juga seorang Dosen muda yang energik, smart dan cerdas.

Ia dikenal masyarakat maupun kampusnya STIS Tual sebagai seorang pengajar yang selalu kritis dalam berbagai giat kemahasiswaan.

Kepada media ini, Wokanubun menceritakan tentang karya yang ditulisnya dengan judul "Falsafah yang Mempersatukan”.

Menurutnya, berbeda pandangan politik itu sesuatu yang lumrah bahwa dalam kesamaan, selalu ada perbedaan artinya hidup itu ada variasinya.

Sejarah pernah mencatat pergulatan pemikiran antara Soekarno dan Sutan Syahrir. Sampai- sampai Soekarno pernah mengambil langkah politik tanpa belas kasih terhadap Syahrir.

Tetapi ketika Syahrir mangkat, Soekarnolah yang menganugerahinya gelar pahlawan nasional.

Dari situlah terbangun satu negeri bernama Indonesia.

Mereka (Soekarno dan Syahrir) sadar bahwa keadaban sosial merupakan tujuan dalam berbangsa dan bernegara, sesuatu yang perlu dirawat dan selalu disucikan agar tidak bercerai.

Wokanubun mengatakan ada semacam kekhawatiran bersama jangan sampai moralitas terpisah dari religiositas, etika terpisah dari hukum dan prinsip tergeser oleh pragmatisme.

“Sebab keteladan pemimpin adalah sesuatu yang diwariskan bukan dipertontonkan,” jelasnya.

Menurut Wokanubun, pemimpin yang hebat dalam tindakan selalu memberi hidup seperti sungai yang terus mengalir memberikan kesejukan hidup dan menginspirasi orang lain untuk bermimpi dan belajar.

"Itu, sedikit pelajaran sejarah yang saya dapat dibangku sekolah,” kisahnya.

Dari tempat yang jauh. Saya, dan tentunya semua orang kei. Sebelum mengenal baca tulis tentu sudah dan akan mewarisi pesan leluhur; falsafah yang dijadikan pandangan hidup.

Ya, Adat. Sebelum orang Eropa fasih berbicara tentang hak asasi manusia (HAM) kita orang Kei sudah lebih dulu mengenal “Hira Ini Ntub Fo Ini, It Did Natub Fo It Did,”  yang artinya apa yang menjadi hak milik orang, tetap akan selalu menjadi hak milik orang tersebut.

Sebelum kita mengenal indoktrinasi Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika, kita orang Kei sudah lebih dulu mengenal “Ain Ni Ain,” yang menjelaskan bahwa kita memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda namun saling memiliki rasa persaudaraan karena berasal dari satu.

Sebagai pedoman dan falsafah hidup.

Sebagai sesuatu yang dihitung sebagai adat Kei yang kita miliki sekarang memiliki kekhasan dan eksotisme untuk itu perlu kita jaga dan wariskan bersama.

“Mari berpikir berpikir global, bertindak local,” pungkasnya.

(dp-52)

Label: