Kantor Bahasa Provinsi Maluku Gelar Rakor Festival Tunas Bahasa Ibu

Giat Rakor Festival Tunas Bahasa Ibu  Ambon, yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Maluku, Rabu (15/6/2022)

Ambon, Dharapos.com
- Kantor Bahasa Provinsi Maluku telah mengelar Rapat Kordinasi (Rakor) Festival Tunas Bahasa Ibu  Ambon, Rabu (15/6/2022).

Kegiatan yang berlangsung di Swiss Belhotel ini dalam rangka meningkatkan bahasa dan sastra serta menjaga kelestarian bahasa secara baik dan benar dalam kehidupan masyarakat.

Rapat kordinasi ini juga melibatkan tiga Kabupaten yang ada di Maluku diantaranya Buru, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).

Turut hadir  Asisten Administrasi Umum Pemerintah Habiba Saimima yang mana dalam kegiatan ini mewakili Sekda Maluku, Kepala Kantor Bahasa Maluku Syahril, Perwakilan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Maluku serta Duta Bahasa.

Sekda Maluku dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Habiba  Saimima mengatakan, atas nama Pemerintah Provinsi Maluku pihaknya memberikan apresiasi kepada Kepala Kantor Bahasa Maluku yang telah melakukan rapat koordinasi, sebagai upaya dalam meningkatkan bahasa dan sastra serta menjaga kelestarian bahasa secara baik dan benar dalam kehidupan masyarakat.

"Salah satu tujuan manusia menciptakan bahasa sebagai bahasa komunikasi agar, manusia dapat mengekspresikan semua bahasa bersifat vokal," ungkap Saimima.

Di katakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan bahasa daerah itu punah.

"Bahasa di Maluku nyaris punah akibat semakin sedikitnya jumlah penutur asli di kalangan muda, dan kurangnya upaya untuk pelestarian maupun revitalisasi," tuturnya.

Dirinya berharap, kegiatan ini dapat menjadi momentum yang sangat strategis untuk melestarikan bahasa daerah yang ada dan berkembang di Provinsi Maluku.

"Semoga kita dapat melestarikan bahasa dan dapat dikembangkan oleh kaum muda yang dapat mengembangkan bahasa daerah di Maluku," tutupnya.

Ditempat yang sama, Kepala Kantor Bahasa Maluku Syahril menyampaikan beberapa hal yang menyebabkan bahasa daerah di Maluku terancam punah.

"Bahasa daerah di Maluku terancam punah. Hal ini dikarenakan kelalaian orang tua, dunia pendidikan dan pemerintah, sehingga mempercepat kematian bahasa daerah," kata Syahril.

Dikatakan, Maluku memiliki 70 bahasa daerah dan dari 70 bahasa daerah tersebut, 62 bahasa daerah telah terregistrasi di Unesco dan Nasional sementara 8 bahasa daerah masih dalam usulan.

Selain itu, Maluku juga merupakan provinsi keempat terbanyak bahasa daerahnya setelah Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT)," ujarnya.

"Pada tahun 2022, pemerintah telah mengagendakan program revitalisasi bahasa daerah. Selain itu, Menteri Kebudayaan Riset dan Teknologi telah melakukan program merdeka belajar edisi 17 dengan nama revitalisasi bahasa dan sastra daerah pada tanggal 22 Februari 2022. Revitalisasi bahasa dan sastra telah dilaksanakan pada 12 provinsi di Indonesia termasuk provinsi Maluku," katanya.

Kemudian, lanjut Syahril, Untuk tahun 2022 Maluku memiliki tiga bahasa daerah yang akan dilakukan revitalisasi bahasa diantaranya, bahasa Buru di Kabupaten Buru, bahasa Key di Kabupaten Maluku Tenggara dan Bahasa Yamdena di KKT.

"Dalam pelaksanaan revitalisasi bahasa daerah ditetapkan dengan tiga model diantaranya model A, B dan C. Model A yaitu kondisi bahasa dan tingkat vitalitas aman sampai rentan, ada bahasa yang dominan, pewarisan bahasa alami dan terstruktur. Model B dimana, tingkat vitalitas aman sampai mengalami kemunduran dan situasi bahasa dominan dan pewarisan bahasa alami dan terstruktur.  Sementara model C, dimana tingkat vitalitas rentan sampai terancam punah, situasi bahasa tidak ada yang dominan dan pewarisan bahasa alamiah," terangnya.

Dengan demikian, dirinya berharap bahasa daerah di Maluku akan dikembangkan serta dapat dilestarikan oleh anak cucu Maluku.

(dp-53)