Bupati Malra - Wali Kota Tual Tegaskan Gelar Vis Bad Layak Untuk Gubernur Maluku

Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun dan Wali Kota Tual Adam Rahayaan saat memberikan sambutan

Langgur, Dharapos.com
- Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun dan Wali Kota Tual Adam Rahayaan secara bersama-sama mengakui penganugerahan gelar adat Vis Bad kepada Gubernur Maluku Murad Ismail.

Gubernur dinilai telah berjasa untuk dua daerah di Kepulauan Kei ini sehingga pantas dan layak digelari sebagai anak adat Suku Kei.

Sebelum menyampaikan sambutan, Bupati M. Thaher Hanubun berdiri dan menuju ke tempat duduk Wali Kota Tual Adam Rahayan serta menggandengnya untuk bersama-sama memberikan sambutan.

"Gelar ini diberikan pasti ada alasannya. Alasannya adalah Gubernur Murad telah memberikan dukungan kepada saya selaku Bupati Malra dan Wailkota Tual sehingga ada rekomendasi-rekomendasi kepada kami untuk selanjutnya dibawah ke Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian-Kementerian dalam rangka pembangunan di dua daerah ini," akuinya.

Lanjut Bupati Hanubun, adanya peristiwa ini karena inisiatif dari dirinya.

“Saya sengaja meminta kepada Dewan Raja Suku Kei untuk apa yang harus kita berikan kepada Gubernur Maluku Murad Ismail atas jasanya yang telah diberikannya kepada daerah ini. Maka, sebagai bentuk ucapan terima kasih, sehingga hari ini, kita kasih hati kita dengan gelar Vis Bad kepada Gubernur dan Dit Evav kepada Ibu Widya," urainya.

Atas pengukuhan itu, Bupati Hanubun menyampaikan pesannya kepada seluruh masyarakat Kei.

“Hari ini saya mau katakan kepada kita masyarakat Suku Kei dimana saja berada bahwa Gubernur Maluku Murad Ismail dan Ibu Widya Pratiwi Murad bukan orang lain, tapi anak suku Kei,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Wali Kota Tual, Adam Rahayaan.

"Jasa berupa rekomendasi telah diberikan Gubernur Maluku Murad Ismail sehingga adanya program pembangunan juga di Kota Tual. Salah satunya pembangunan waja Kota Tual di Pantai Kiom,” akuinya.

Sehingga, diharapkan melalui pengukuhan ini sebagai penegasan bahwa Gubernur dan istri adalah bagian dari orang Kei.

“Kita sebagai anak adat sudah pasti paham, bahwa dalam kepentingan apa saja beliau adalah abang atau kakak kita, dimana sudah pasti dalam kepentingan dan keperluan apapun kedepan kita ada, kalau bukan kita siapa lagi. Saya berkewajiban dan membiasakan diri menyebut Koyaan (kakak tertua) karena kita sudah kukuhkan beliau, dan kita harus tahu bahwa beliau saat ini adalah abang atau kakak kita," pungkasnya.

(dp-52)

Label: