Wakil Ketua Komisi I DPRD Maluku, Yance Wenno mengatakan
ketidakadilan dalam proses seleksi yang dilakukan Panitia Seleksi tingkat
Provinsi Maluku menandakan buruknya penerapan pola seleksi sehingga perlu dirubah
agar ada dampak keadilan bagi seluruh masyarakat sehingga kasus yang dialami
Cristianie tidak lagi terulang.
”Masalah yang dihadapi Cristianie bukan persoalan baru sebab
kasus ini juga pernah terjadi beberapa tahun lalu. Karena itu perlu ada
perubahan dalam pola seleksi,” ujar Wenno, Kamis (13/6/2024) di DPRD Maluku.
Ditambahkan, sangat disayangkan jika Cristianie yang harus
digantikan dengan siswa lain tapi punya riwayat kesehatan yang lebih buruk.
Karena itu perlu ada penjelasan resmi dari dokter yang menangani .
”Ini alasan yang tidak masuk akal ” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV, Samson Atapary menyayangkan
buruknya seleksi yang dilakukan Panitia seleksi tingkat provinsi karena sarat
mafia dan nepotisme.
”Saya kira ada mafia dalam proses medical check up . Sebab
peserta tidak mengetahui hasil rekaman mediknya tapi bisa diketahui oleh
peserta yang lain,” ujarnya.
Ditegaskan Atapary bahwa apa yang dilakukan oleh Panitia
Seleksi dan pemerintah daerah telah membunuh karakter anak di bawah umur.
Kondisi mental anak sangat berbeda jauh dengan orang dewasa.
”Kondisi anak di bawah umur ini sangat labil jika
dibandingkan dengan orang dewasa. Apa yang dilakukan merupakan pembunuhan
karakter anak”pungkas Atapary.
(dp-mn)
Label: Politik dan Pemerintahan